Wahai mereka yang memiliki ketulusan, Jika ingin membuka tirai, Pilihlah kematian dan sobeklah tirai. Bukankah kematian itu kau masuk ke kuburan. Kematian adalah perubahan untuk masuk ke dalam cahaya. Ketika manusia dewasa, Matilah masa kecilnya. Ketika menjadi Rumi, Lepaslah celupan Habsyi-nya. Ketika tanah menjadi emas, Tak tersisa lagi tembikar. Ketika derita menjadi bahagia, Tak tersisa lagi duri nestapa…………….
Arsip untuk pencerahan
K e B i j A k a N
Kebijakan itu seperti cairan, kegunaannya terletak pada penerapan yang benar, orang pintar bisa gagal karena ia memikirkan terlalu banyak hal, sedangkan orang bodoh sering kali berhasil dengan melakukan tindakan tepat. Dan Kebijakan sejati tidak datang dari pikiran kita saja, tetapi juga berdasarkan pada perasaan dan fakta. Tak seorang pun sempurna. Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak. Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah. Apa yang berada di belakang kita dan apa yang berada di depan kita adalah perkara kecil berbanding dengan apa yang berada di dalam kita.
Takabur
Ada penyakit yang menakutkan serta bahaya dan bencana besar yang sering mengancam kehidupan manusia. Manusia seringkali menderita demam, batuk-batuk dan pusing. Udara dan tanah saling berseteru satu sama lain. Seseorang menyakiti bahkan membunuh orang lain karena sengaja atau tidak sengaja. Seringkali manusia sakit karena terpaksa, seringkali pula tidak. Manusia kadang-kadang tidak dapat melakukan sesuatu yang baik, kadang-kadang menyakiti dirinya sendiri. Manusia kadang-kadang tidak memperoleh apa yang diinginkannya, kadang-kadang memperolehnya. Ia bergerak dalam lingkaran setan yang tidak dapat mengendalikan tabiatnya. Kerapkali ia tidak berdaya dan tidak berpengharapan. Oleh karena itu, bagaimana mungkin manusia akan takabur?
TEMAN YANG ABADI
|
tHe FreSh maKeR
Ada jutaan kata hilir mudik mampir di telinga ini.
Entah itu penuh makna ataupun nirmakna.
Entah membuat segar atau justru memerahkan telinga.
Tapi seburuk apapun kata-kata yang terdengar, biarkan ia hanya mampir di telinga saja.
Jangan izinkan ia singgah di hati.
Tak terbilang peristiwa dan adegan berlangsung di pelupuk mata ini, entah membuat kita tersenyum atau sebaliknya.
Menyenangkan atau membuat mata ini seperti dilempari pasir.
Aneka kejadian yang berlangsung dan seringkali tak bisa kita pilih itu memang teramat sering tak menyedapkan pandangan.
Namun, hentikan itu hanya di pelupuk mata saja, dan jangan biarkan ia menelusup ke dada hingga memenuhi setiap inci ruang dalam hati.
Ada banyak hal yang tak berkesesuaian dengan pikiran dan harapan kita, namun seringkali tak mampu kita tolak kejadian dan peristiwanya.
Tapi tahukah kita apa yang terjadi atas diri ini jika terus menerus menyimpan sakit dan kecewa dalam hati? Sungguh melelahkan dan menyakitkan terus menyimpannya dalam hati. Satu-satunya orang yang paling merugi setiap kita menanam sakit hati, iri, dengki, kecewa, kesal, adalah diri ini sendiri.
Ibakan hati ini dengan tak menyimpan segala penyakit itu dalam hati.
Luaskan ruang dalam hati agar cukup tersedia maaf untuk segala kata dan peristiwa yang menyakitkan itu.
Satu-satunya orang yang paling luas hatinya dan langkahnya seringan awan adalah ia yang tak menyimpan satupun dendam dan sakit di hatinya.
saya belajar untuk menjadi seperti ini, semoga saya bisa.
Inspired by Yusuf Mansyur
Balasan Kesabaran
Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata : “Anak laki-laki Abu Thalhah dari Ummu Salamah meninggal dunia. Maka isterinya berkata kepada keluarganya, ‘Jangan kalian beritakan kepada Abu Thalhah tentang kematiannya, sampai aku sendiri yang mengabarkannya!’ Anas bin Malik berkata, ‘Abu Thalhah datang dan dihidangkan kepadanya makan malam, maka ia pun makan dan minum’, Anas berkata, ‘Sang isteri kemudian berdandan indah bahkan lebih indah dari waktu-waktu yang sebelumnya. Setelah dia merasa bahwa Abu Thalhah telah kenyang dan puas dengan pelayanannya, sang isteri bertanya, ‘Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu tentang suatu kaum yang meminjamkan sesuatu kepada sebuah keluarga, lalu mereka mengambil barang yang dipinjamkannya, apakah mereka berhak menolaknya?’ Ia berkata, ‘Tidak (berhak)!’ ‘Jika demikian, maka mintalah pahalanya kepada Allah tentang puteramu (yang telah diambilnya kembali)!, kata sang isteri. Suaminya menyergah, ‘Engkau biarkan aku, sehingga aku tidak mengetahui apa-apa, lalu engkau beritakan tentang (kematian) anakku?’ Setelah itu, ia berangkat mendatangi Rasulullah SAW lalu ia ceritakan apa yang telah terjadi. Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Semoga Allah memberkahi kalian berdua tadi malam’. Anas berkata, ‘Lalu isterinya mengandung dan melahirkan seorang anak. Kemudian Abu Thalhah berkata kepadaku, ‘Bawalah dia kepada Nabi SAW’. Lalu aku bawakan untuknya beberapa buah kurma. Nabi SAW lalu mengambil anak itu seraya berkata, ‘Apakah dia membawa sesuatu?’ Mereka berkata, ‘Ya, beberapa buah kurma’, Nabi SAW kemudian mengambilnya dan mengunyahnya, lalu diambilnya dari mulutnya, kemudian diletakkannya di mulut bayi itu dan beliau menggosok-gosokkannya pada langit-langit mulut bayi tiu, dan beliau menamainya Abdullah.” (HR. Al-Bukhari, 9/587 dalam Al-Aqiqah, Muslim no. 2144).
Dalam riwayat Al-Bukhari, Sufyan bin Uyainah berkata : “Seorang laki-laki dari shahabat Anshar berkata, ‘Aku melihat mereka memiliki sembilan anak. Semuanya telah hafal Al-Qur’an, yakni dari anak-anak Abdullah, yang dilahirkan dari persetubuhan malam itu, yaitu malam wafatnya anak yang pertama, yaitu Abu Umair yang Nabi SAW mencandainya seraya berkata, ‘Hai Abu Umair, apa yang sedang dilakukan anak burung pipit?”
Dalam riwayat lain (Riwayat ini disebutkan oleh Thahir bin Muhammad Al-Haddad dalam kitabnya “Uyunul Majalis an Mu’awiyah bin Qurrah”. Lihat Baradul Akbad, hal. 25) disebutkan : “Ia berkata, Maka isterinya pun hamil mengandung anaknya, lalu anak itu ia beri nama Abdullah, lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Segala puji bagi Allah yang menjadikan dalam umatku orang yang memiliki kesabaran seperti kesabaran seorang wanita dari Bani Israil’. Kepada beliau ditanyakan, ‘Bagaiman beritanya wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Dalam Bani Israil terdapat wanita bersuami yang memiliki dua anak. Suaminya memerintahkannya menyediakan makanan untuk orang-orang yang ia undang. Para undangan berkumpul di rumahnya. Ketika itu kedua anaknya keluar untuk bermain, tiba-tiba mereka terjatuh ke dalam sumur dekat rumahnya. Sang isteri tidak hendak mengganggu suaminya bersama para tamunya, maka keduanya ia masukkan ke dalam rumah dan ditutupinya dengan pakaian. Ketika para undangan sudah pulang, sang suami masuk seraya bertanya, ‘di mana anak-anakku?’ Isterinya menjawab, ‘Di dalam rumah’. Ia lalu mengenakan minyak wangi dan menawarkan diri kepada suaminya, sehingga mereka melakukan jima’. Sang suami kembali bertanya, ‘Di mana anak-anakku?’ ‘Di dalam rumah’, jawab isterinya Lalu sang ayah memanggil kedua anaknya. ‘Tiba-tiba mereka keluar memenuhi panggilan. Sang isteri terperanjat, ‘Subhanallah, Mahasuci Allah, demi Allah keduanya telah meninggal dunia, tetapi Allah menghidupkannya kembali sebagi balasan dari kesabaranku!”
Oleh :
Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
